Dalamaliran ini faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecendrungan, bakat, akal dan lain-lain. Menurut Hamzah ya'kub Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentukanya akhlak dipengaruhi dan ditentukan oleh dua faktor, yaitu :
B Membaca Al-Qur'an. 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Menurut Ngalim Purwanto (2007:28), menerangkan dalam bukunya Psikologi Pendidikan : Dalam diri setiap muslim mempunyai kemampuan membaca Al-Qurโan, ada berbagai macam tingkat kemampuan membaca Al-Qurโan dari yang tinggi, sedang, sampai yang rendah. Hal ini disebabkan oleh banyak
Faktorpembawaan (herditas), merupakan factor yang mempengaruhi perilaku individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik yang dimiliki individu sejak konsepsi (pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan pihak orang tua melalui gen-gen.
Faktorinternal Faktor ini merupakan faktor yang terdapat dalam diri orang yang bersangkutan, faktor-faktor tersebut meliputi: 1) Faktor pembawaan Menurut aliran nativisme bahwa nasib anak itu sebagian besar berpusat pada pembawaannya, sedangkan pengaruh dari lingkungannya hanya sedikit. Baik buruknya perkembangan anak, sepenuhnya tergantung
berpengaruhterhadap perkembangan anak. Hasil prkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap dan pendidikan anak. c. Aliran Naturalisme Aliran ini dipelopori oleh J.J Rosseau. Rosseau berpendapat bahwa semua anak baru dilahirkan mempunyai pembawaan BAIK.
Suksesgagalnya suatu customer service lebih banyak ditentukan oleh people, yakni karyawan yang bertugas sebagai customer service representative. Oleh karena itu, dalam melakukan rekrutmen, perusahaan harus menyeleksi kandidat yang sesuai dengan pekerjaan customer service. yang mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen. Secara mengejutkan
TopPDF Faktor faktor Yang Dapat Mempengaruhi Ke dikompilasi oleh dalam berperilaku seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor genetik dan faktor-faktor luar individu sifat fisik, sifat kepribadian, bakat pembawaan dan pengetahuan. Sedangkan faktor dari luar individu terdapat faktor lingkungan, pendidikan
a Pembawaan: Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri- ciri yang dibawa sejak lahir. "Batas kesanggupan kita", yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal, pertama-tama ditentu-kan oleh pembawaan kita. Orang itu ada yang pintar dan ada yang bodoh. Meskipun menerima latihan dan pelajaran yang sama, perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada. b.
Memahamifaktor yang mempengaruhi pembawaan vs lingkungan. 4. Dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang pembawaan vs lingkungan Sebagai kesimpulan dapat dikatakan jalan perkembangan manusia sedikit banyak ditentukan oleh pembawaan yang turun temurun oleh aktifitas atau penentuan manusia sendiri yang dilakukan dengan bebas di bawah
Faktorbawaan atau pembawaan. Penjelasan: Perkembangan seseorang sudah ditentukan pula oleh keadaannya selama di dalam kandungan disebut faktor pembawaan. Faktor pembawaan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jasmani dan kecerdasan seseorang. Lihat Foto . Ilustrasi pertumbuhan manusia dari bayi hingga dewasa.
coqg. intelektual individu ini terjadi perbedaan pendapat di antara penganut psikologi. Kelompok psikometrika radikal berpendapat bahwa perkembangan intelektual individu sekitar 90% ditentukan oleh faktor hereditas dan pengaruh lingkungan, termasuk di dalamnya pendidikan, hanya memberikan kontribusi sekitar 10% saja. Sebaliknya, kelompok penganut pedagogis radikal amat yakin bahwa inteverensi lingkungan, 15 Gardner Howard, Kecerdasan Majemuk, Batam Interaksara, 2003, h. 32. 16 termasuk pendidikan, justru memiliki andil sekitar 80-85%, sedangkan hereditas hanya memberikan kontribusi 15-20% terhadap perkembangan intelektual individu. Tanpa mempertentangkan kedua kelompok radikal itu, perkembangan intelektual sebenarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor dan dua faktor utamanya, yaitu hereditas dan Pengaruh faktor hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan intelektual itu dapat dijelaskan berikut ini a. Faktor Hereditas / Faktor Pembawaan Genetik Pembawaan ditentukan oleh sifat dan ciri yang dibawa sejak lahir. Banyak teori dan hasil penelitian menyatakan bahwa kapasitas intelegensi dipengaruhi oleh gen orang tua. Namun, yang cenderung mempengaruhi tinggi atau rendahnya tingkat kecerdasan anak tergantung factor gen mana ayah atau ibu yang dominant memepengaruhinya pada saat terjadinya โkonsepsiโ individu. Teori konvergensi mengemukakan bahwa anak yang lahir telah mempunyai potensi bawaan, tetapi potensi tersebut tidak dapat berkembang dengan baik tanpa mendapat pendidikan dan latihan atau sentuhan dari lingkungan. b. Faktor Gizi Kadar gizi yang terkandung dalam makanan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan inteligensi serta menentukan produktivitas kerja seseorang. Seandainya terjadi kekurangan pemberian makanan yang bergizi, maka pertumbuhan dan perkembangan anak yang bersangkutan akan tehambat, terutama perkembangan otaknya atau mentalnya. Apabila otak tidak dapat tumbuh dan berkembang secara normal, maka fungsinya pun akan kurang normal pula akibatnya anak menjadi kurang cerdas pula. c. Faktor Kematangan 17 Mohammad Ali, Mohammad Asrori, Psikologi RemajaPerkembangan Peserta Didik., h. 33. Piaget seorang psikologi dari Swisss membuat empat tahapan kematangan dalam perkembangan intelektual yaitu 1 Periode sensori motorik 0-2 tahun 2 Periode pra opersional 2-7 tahun 3 Periode operasional konkrit 7-11 tahun 4 Periode operasional formal 11 tahun ke atas Hal tersebut membuktikan bahwa semakin bertambah usia seseorang, intelektualnya makin berfungsi dengan sempurna. Ini berarti faktor kematangan mempengaruhi struktur intelektual. Yaitu kemampuan menganalisis memecahkan suatu permasalahan yang rumit dengan d. Faktor Pembentukkan Pembentukan dapat diartikan sebagai segala keadaan diluar diri sesorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah dan pembentukan tidak sengaja pengaruh alam sekitar. e. Faktor Kebebasan Psikologis Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa minat tidak selamanya menjadi syarat dalam perbuatan intelegensi. Kebebasan psikologis perlu dikembangkan pada anak agar intelektualnya berkembang dengan baik. Anak yang memiliki kebebasan untuk berpendapat, tanpa disertai perasaan takut atau cemas dapat merangsang berkembangnya kreativitas dan pola pikir. Mereka bebas memilih cara metode tertentu dalam memecahkan ini memiliki sumbangan yang erarti dalam perkembangan intelektual. f. Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas Minat mengarahkan perbuatan manusia kepada suatu tujuan yang hendak di capai dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Dari dorongan untuk berinteraksi dengan dunia luar, lama kelamaan timbulah minat terhadap sesuatu. Segala yang ia minati akan mendorongnya untuk melakukan lebih giat dan lebih baik lagi. 18 g. Faktor Lingkungan Ada dua unsur lingkungan yang sangat penting peranannya dalam mempengaruhi perkembangan intelektual anak, yaitu keluarga dan sekolah. 1 Keluarga Inteverensi yang paling penting dilakukan oleh keluarga atau orang tua adalah memberikan pengalaman kepada anak dalam berbagai bidang kehidupan sehingga anak memiliki informasi yang banyak yang merupakan alat bagi anak untuk bepikir. Cara-cara yang digunakan, misalnya memberi kesempatan kepada anak untuk merealisasikan ide-idenya, menghargai ide-ide tersebut, memuaskan dorongan keingintahuan anak dengan jalan seperti menyediakan bacaan, alat-alat keterampilan, dan alaat-alat yang dapat mengembangakan daya kreativitas anak. Memberi kesempatan atau pengalaman tersebut akan menuntut perhatian orang tua. 2 Sekolah Sekolah adalah lembaga formal yang diberi tanggung jawab untuk meningkatkan perkembangan anak termasuk perkembangaan berpikir anak. Dalam hal ini, guru hendaknya menyadari bahwa perkembangan intelektual anak terletak ditangannya. Beberapa cara diantaranya adalah sebagai berikut a Menciptakan interaksi atau hubungan yang akrab dengan peserta didik. b Memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk berdialog dengan orang-orang yang ahli dan berpengalaman dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. c Menjaga dan meningkatkan pertumbuhan fisik anak, baik melalui kegiatan olahraga maupun menyediakan gizi yang cukup. d Meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik, baik melalui media cetak maupun dengan menyediakan situasi yang memungkinkan para peserta didik berpendapat atau mengemukakan Menurut Andi Mappiare dalam buku karangan Sunarto dan Hartono ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi perkembangan intelektual antara lain 19 a. Bertambahnya informasi Ketika manusia mendapatkan informasi baru, informasi tersebut akan disimpan di dalam otak sehingga kecerdasannya pun bertambah dan dapat berpikir reflektif. b. Banyaknya pengalaman dan latihan dalam memecahkan masalah. Hal ini akan melatih manusia agar dapat berpikir secara proporsional. c. Adanya kebebasan berpikir Adanya kebebasan berpikir, faktor ini membuat manusia berani untuk menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan, dan menunjang keberanian anak dalam menyelesaikan masalah serta menarik kesimpulan dengan Tiga kondisi di atas sesuai dengan dasar-dasar teori Piaget mengenai perkembangan inteligensi, yakni a. Fungsi inteligensi termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis. b. Bertambahnya usia menyebabkan berkembangnya struktur inteligensi baru, sehingga pengaruh pula terhadap terjadinya perubahan kualitatif. Berdasarkan pembahasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan intelektual yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam seperti 20 Sunarto, Hartono, Perkembangan Peserta Didik, Jakarta PT Asdi Mahasatya, 2006, h. 106. hereditas/gen, gizi, kematangan, pembentukan, kebebasan psikologis seta minat dan pembawaan yang khas. Sedangkan faktor dari luar yitu lingkungan keluarga dan sekolah. Jadi tidak hanya faktor hereditas/gen pembawaan, tetapi juga faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi tingkat intelektual seseorang. Semua faktor tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain. Untuk menentukan inteligensi atau tindakan seorang anak, kita tidak dapat hanya melihat satu faktor. Faktor-faktor tersebut menentukan perbedaan inteligensi seseorang. Inteligensi ini bukan hanya kecerdasan intelektual semata, namun semua kecerdasan-kecerdasan yang lain yang ada dalam diri setiap manusia. Kecerdasan-kecerdasan tersebut adalah kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual. Kecerdasan ini pula memiliki bebagai kelebihan dan saling menunjang satu sama lain. B. Child Abuse Kekerasan Pada Anak Dalam Keluarga
Interaksi manusia merupakan akibat dari salah satu sifat asli manusia sebagai makhluk sosial, atau biasa disebut sebagai zoon politicon Warsah & Daheri, 2021, hlm. 181. Sebagai makhluk individual, manusia mempunyai dorongan atau motif untuk mengadakan hubungan dengan dirinya sendiri. Namun, sebagai makhluk sosial, manusia mempunya dorongan atau motif untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Karena dorongan sosial inilah, manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan interaksi sosial. Selain itu, manusia juga merupakan dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya, yang terikat oleh hukum-hukum alam. Hal tersebut juga menciptakan interaksi manusia dengan lingkungan hidup. Sebagai makhluk hidup, manusia merupakan makhluk yang dinamis dalam arti bahwa manusia dapat mengalami perubahan-perubahan sebagai akibat interaksi dengan lingkungan hidup. Perilaku manusia dapat berubah dari waktu ke waktu. Dengan demikian interaksi manusia dan lingkungan baik itu lingkungan sosial atau lingkungan hidup adalah hal yang tidak terelakan baik secara intrinsik maupun ekstrinsik. Berikut adalah berbagai kumpulan literasi mengenai interaksi manusia dengan lingkungannya. Pengertian Interaksi Sebagai makhluk sosial dan tidak dapat hidup tanpa alam, manusia secara alami akan mengadakan hubungan atau interaksi dengan orang lain dan lingkungan alam. Namun tentunya interaksi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Sebagian orang dapat berinteraksi dengan baik dengan orang lain, sementara itu sebagian mengalami kesulitan. Dengan demikian, interaksi merupakan hal yang dipelajari dalam kehidupan. Seseorang dengan umur yang lebih matang cenderung dapat melakukan interaksi dengan lebih baik dari pada yang masih muda. Oleh karena itu, interaksi juga merupakan suatu proses. Selain itu, ada yang baik dan ada yang buruk juga dalam interaksi seseorang. Hal demikian juga menunjukkan bahwa interaksi merupakan suatu kemampuan yang dipelajari. Interaksi merupakan suatu keterampilan, sesuatu sebagai hasil belajar. Salah satu hukum dalam belajar adalah mengenai latihan, pembiasaan atau conditioning. Oleh karena itu, agar mendapatkan keterampilan dalam berinteraksi, kita memerlukan adanya latihan. Orang yang kurang latihan dalam berinteraksi dapat dipastikan kurang terampil dalam berinteraksi. Dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain atau sebaliknya. Pengertian penyesuaian diri di sini dalam arti yang luas yaitu bahwa individu dapat meleburkan diri dengan keadaan di sekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan. Dapat disimpulkan bahwa interaksi adalah suatu proses melakukan hubungan dengan orang lain, lingkungan alam, maupun hal-hal lain yang menjadi sifat dasar dan kebutuhan manusia baik itu dengan cara berkembang melalui belajar maupun adaptasi untuk mencapai keadaan diri individu yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, manusia akan senantiasa mengalami perkembangan, memiliki faktor internal yang memengaruhi interaksinya, dan berhubungan langsung dengan lingkungannya. Faktor-faktor tersebut merupakan inti dari proses interaksi manusia dengan lingkungannya. Berikut adalah pemaparan-pemaparannya. Perkembangan Manusia Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, dalam suatu proses interaksi manusia senantiasa berkembang agar mampu melakukannya. Perkembangan manusia ini amatlah menentukan bagaimana seorang individu mampu berinteraksi dengan lingkungan sosial maupun alam. Akibat dari unsur kehidupan yang ada pada manusia, manusia berkembang dan mengalami perubahan, baik itu dalam segi fisiologis maupun psikologis. Terdapat banyak teori yang membahas mengenai manusia dan perkembangannya. Beberapa teori-teori perkembangan manusia tersebut di antaranya adalah sebagai berikut. Teori Perkembangan Nativisme Teori Nativisme menyatakan bahwa perkembangan manusia itu akan ditentukan oleh faktor-faktor nativus, yaitu faktor keturunan yang merupakan faktor-faktor yang dibawa oleh individu sejak dilahirkan Saleh, 2018, hlm. 144. Menurut teori ini sewaktu individu dilahirkan telah membawa sifat-sifat tertentu, dan sifat inilah yang akan menentukan keadaan individu yang bersangkutan, sedangkan faktor lain yaitu lingkungan, termasuk di dalamnya pendidikan dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan individu itu. Teori ini dikemukakan oleh Schopenhouer Bigot, dkk.,1950 dalam Saleh, 2018, hlm. 144. Teori ini berpandangan bahwa seakan-akan manusia ditentukan oleh sifat sebelumnya, tidak dapat diubah, sangat tergantung pada sifat yang diturunkan dari orang tuanya. Dengan kata lain teori ini juga mengemukakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan dibekali membawa bakat-bakat, baik yang berasal dari orang tuanya, nenek moyang atau jenisnya. Apabila pembawaannya itu baik maka akan baik pula anaki itu kelak, demikian juga sebaliknya. Teori Perkembangan Empirisme Teori empirisme berpandangan bahwa perkembangan individu akan ditentukan oleh empirisnya atau pengalaman-pengalamannya yang diperoleh selama perkembangan individu Saleh, 2018, hlm. 146. Pengalaman yang dimaksud dapat juga berupa pendidikan yang diterima oleh individu. Menurut teori ini individu yang dilahirkan dianggap sebagai kertas putih bersih yang belum ditulis, dan perkembangan individu adalah proses penulisannya. Teori empirisme ini dikemukakan oleh John Locke, juga sering dikenal dengan teori tabularasa yang berarti buku kosong atau lembaran kertas putih yang dapat diisi oleh apa pun dan siapa pun. Dengan demikian teori empirisme adalah teori yang memandang keturunan atau pembawaan tidak mempunyai peranan dan membuatnya menjadi kebalikan atau lawan dari teori nativisme. Selain dipengaruhi oleh orang lain dan pendidikan, teori perkembangan empirisme juga menekankan bahwa lingkungan juga dapat mengisi lembaran kosong seseorang. Lingkungan yang mempengaruhi tingkah-laku terdiri dari lima aspek, yaitu geografis, historis, sosiologis, kultiral dan psikologis Mahmud, 1984 dalam Saleh, 2021, hlm. 148. Lingkungan geografis disebut juga lingkungan alamiah, yaitu lingkungan yang ditentukan oleh letak wilayah seperti di dataran, pegunugan, dan pesisir pantai; kondisi iklim seperti panas di gurun sahara, tropis, seddang, dan salju; sumber penghasilan seperti wilayah industry, pertanian, pertambangan, dan perminyakan. Lingkungan historis yaitu lingkungan yang ditentukan oleh ciri suatu masa atau era dengan segala perkembangan peradabannya. Misalnya masa klasik, masa kemunduran, masa pencerahan, masa modern, era industri dan sebagainya. Lingkungan sosiologis adalah lingkungan yang ditentukan oleh hubungan antar individu dalam suatu komunitas sosial. Hubungan ini selalu dikaitkan dengan tradisi, nilai-nilai, perpaturan dan undang-undang. Lingkungan kultural, adalah lingkungan yang ditentukan oleh kultur suatu masyarakat. Kultur ini meliputi cara berpikir, bertindak, berperasaan, dan sebagainya. Lingkungan psikologis adalah lingkungan yang ditentukan oleh kondisi kejiwaan, seperti kondisi rasa tanggung jawab, toleransi, kesadaran, kemerdekaan, keamanan, kesejahteraan dan sebagainya Saleh, 2018, hlm. 147-148. Teori Konvergensi Teori konvergensi merupakan teori gabungan konvergensi dari nativisme dan empirisme yang dikemukakan oleh William Stern yang beranggapan bahwa pembawaan lahir, pengalaman, maupun lingkungan mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan individu Saleh, 2018, hlm. 150. Perkembangan individu akan ditentukan baik oleh faktor yang di bawa sejak lahir faktor endogen maupun faktor lingkungan termasuk pengalaman dan pendidikan yang merupakan faktor eksogen. Penelitian dari W. Stern memberikan bukti tentang kebenaran dari teorinya, dan dapat diterima oleh para ahli pada umumnya, sehingga teori yang dikemukakan oleh W. Stern merupakan salah satu hukum perkembangan individu di samping adanya hukum-hukum perkembangan yang lain. Golongan ini muncul karena melihat kedua pendapat Nativisme dan Empirisme di atas yang saling bertentangan dan keduanya berada pada garis yang ekstrim, dan banyak mempunyai kelemahan-kelemahan jika dihadapkan dengan realitas yang ada terlebih lagi pada abad modern. Faktor Endogen Faktor endogen adalah faktor yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga akhirnya dilahirkan Saleh, 2018, hlm. 156. Endogen sering disebut juga sebagai faktor faktor keturunan atau faktor pembawaan. Faktor ini terjadi sebagai akibat dari bertemunya ovum dari ibu dan sperma dari ayah sehingga faktor endogen yang dibawa oleh individu itu mempunyai sifat-sifat seperti orang tuanya. Kenyataan menunjukkan bahwa saat individu dilahirkan, telah ada sifat-sifat jasmaniah yang diturunkan oleh orangtua kepada anaknya, misalnya karena orangtuanya berkulit putih, maka individu yang dilahirkannya pun memiliki kulit putih. Warna rambut juga sangat bervariasi tergantung dari faktor keturunannya, baik itu warna hitam, merah, cokelat, atau pirang. Individu juga mempunyai pembawaan-pembawaan yang berhubungan dengan sifat-sifat kejasmanian dan tempramen, maka individu masih mempunyai sifat-sifat pembawaan yang berupa bakat. Bakat bukan merupakan satu-satunya faktor yang dibawa individu sewaktu dilahirkan, melainkan hanya merupakan salah satu faktor yang dibawa sewaktu dilahirkan. Di samping itu, individu juga mempunyai sifat-sifat pembawaan psikologis yang erat hubungannya dengan keadaan jasmani yaitu temperamen. Temperamen merupakan sifat-sifat pembawaan yang erat hubungannya dengan struktur kejasmanian seseorang, yaitu yang berhubungan dengan fungsi-fungsi fisiologis seperti darah, kelenjar-kelenjar, cairan-cairan lain, yang terdapat dalam diri manusia. Faktor Eksogen Faktor eksogen merupakan yang datang dari luar diri individu, merupakan pengalaman-pengalaman, alam sekitar, pendidikan Saleh, 2018, hlm. 157. Pengaruh pendidikan dan lingkungan sekitar itu sebenarnya terdapat perbedaan. Pada umumnya pengaruh lingkungan bersifat pasif, dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan suatu paksaan kepada individu. Lingkungan memberikan kesempatan-kesempatan kepada individu, bagaimana individu mengambil manfaat dari kesempatan yang diberikan oleh lingkungan tergantung kepada individu. Tidak demikian halnya dengan pendidikan. Pendidikan dijalankan dengan penuh kesadaran dan dengan secara sistematis untuk mengembangkan sistematis untuk mengembangkan potensi-potensi ataupun yang ada pada individu sesuai dengan cita-cita atau tujuan pendidikan. Hubungan Manusia dengan Lingkungannya Pada teori konvergensi disebutkan bahwa lingkungan memiliki peranan penting dalam perkembangan jiwa manusia. Lingkungan tersebut terbagi dalam beberapa kategori yaitu Lingkungan fisik, berupa alam seperti keadaan alam atau keadaan tanah serta musim; Lingkungan sosial, berupa lingkungan tempat individu berinteraksi. Lingkungan sosial dibedakan dalam dua bentuk, yakni lingkungan sosial primer dan sekunder. Lingkungan sosial primer adalah lingkungan yang anggotanya saling kenal, sementara itu lingkungan sosial sekunder adalah lingkungan yang hubungan antara anggotanya bersifat longgar. Hubungan individu dengan lingkungannya juga memiliki hubungan timbal balik lingkungan mempengaruhi individu dan individu mempengaruhi lingkungan. Sikap individu terhadap lingkungan dapat dibagi dalam 3 kategori yaitu Individu menolak lingkungan jika tidak sesuai dengan yang ada dalam diri individu; Individu menerima lingkungan jika sesuai dengan yang ada dalam diri individu; Individu bersikap netral atau berstatus. Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu yang lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya Warsah & Daheri, 2021, hlm. 182. Artinya, terdapat hubungan yang saling timbal balik. Hubungan tersebut dapat antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial Dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain atau sebaliknya. Saat dialami, interaksi sosial terasa sederhana, kenyataannya interaksi sosial merupakan suatu proses yang kompleks. Oleh karena itu terdapat beragam faktor yang dapat mempengaruhi interaksi sosial yang di antaranya adalah sebagai berikut. Faktor Imitasi Gabrile Tarde berpendapat bahwa seluruh kehidupan sosial itu sebenarnya berdasarkan faktor imitasi saja. Meskipun terdengar sebagai pernyataan yang berat sebelah, kenyataannya faktor imitasi adalah faktor yang kuat dalam mempengaruhi interaksi sosial. Misalnya, jika kita mengamati bagaimana seorang anak belajar berbicara. Mula-mula, ia seakan-akan mengimitasi dirinya sendiri, ia mengulang-ulang bunyi kata tertentu hingga mulai meniru perkataan orangtuanya. Faktor Sugesti Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan interaksi sosial hampir sama. Bedanya adalah bahwa dalam imitasi itu orang yang satu mengikuti sesuatu di luar dirinya. sedangkan pada sugesti, seseorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya yang lalu diterima oleh orang lain di luarnya. Sugesti dalam psikolgi sosial dapat kita rumuskan sebagai suatu proses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu Walgito, 2010 dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 185. Faktor Identifikasi Faktor lain yang memegang peranan dalam interaksi sosial ialah faktor identifikasi. Identifikasi adalah suatu istilah yang dikemukakan oleh Freud, seorang tokoh dalam psikologi dalam, khususnya dalam psikoanalisis. Identifikasi merupakan dorongan untuk menjadi identik sama dengan orang lain. Dalam garis besar hal ini dapat ditempuh dengan dua cara, pertama dari pendidikan, anak mempelajari dan menerima norma-norma sosial itu karena orang tua dengan sengaja mendidiknya. Kedua dalam proses identifikasi ini seluruh norma-norma, cita-cita, sikap dan sebagainya dari orang tua sedapat mungkin dijadikan norma-norma, sikap-sikap dan sebagainya itu dari anak sendiri, dan anak menggunakan hal tersebut dalam perilaku sehari-hari. Faktor SimpatiSimpati merupakan perasaan rasa tertarik kepada orang lain. Oleh karena simpati merupakan perasaan, maka simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan atas dasar perasaan atau emosi. Dalam simpati orang merasa tertarik kepada orang lain yang seakan-akan berlangsung dengan sendirinya, apa sebabnya merasa tertarik sering tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Di samping individu mempunyai kecenderungan tertarik pada orang lain, individu juga mempunyai kecenderungan untuk menolak orang lain, ini yang sering disebut antipati. Interaksi Manusia dengan Alam Interaksi manusia dengan lingkungan alam atau lingkungan hidup adalah interaksi manusia dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik berupa benda hidup maupun benda mati, benda abstrak maupun benda nyata termasuk manusia lainnya serta suasana yang terbentuk karena terjadinya interaksi di antara elemen-elemen alam tersebut. Dari definisi tersebut tampak bahwa lingkungan hidup atau lingkungan alam ini sangatlah luas pengertiannya. Untuk mengerucutkannya kita dapat membaginya menjadi beberapa kelompok utama lingkungan yang terdiri atas lingkungan hidup biotik dan tak hidup abiotik LIngkungan alamiah dan Buatan manusia Lingkungan Prenatal, dan Postnatal Lingkungan Biofisis dan Psikososial Hubungan manusia dengan alam ini juga telah memercikan banyak dialog dan pendapat dari para ahli yang beragam. Beberapa teori atau paham yang hingga kini menjadi pusat dialog utama mengenai hubungan manusia dengan alam adalah sebagai berikut. Paham Determinisme Charles Darwin dalam teori evolusinya berpendapat bahwa makhluk hidup secara berkesinambungan mengalami perkembangan yang dipengaruhi oleh alam. Selanjutnya menurut Ratzel, perkembangan populasi dan budaya berkembang ditentukan oleh kondisi alam pula. Elsworth Huntingon menyatakan iklim juga sangat menentukan perkembangan kebudayaan manusia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia dan perilakunya sangat ditentukan oleh alam, dan inilah narasi utama dari paham determinisme. Paham Posibilisme Sementara itu paham posibilisme menyatakan bahwa alam tidak terlalu berpengaruh terhadap kehidupan karena posibilitas memiliki alamlah yang didapatkan manusia. Manusia dapat mengontrol alam sesuai dengan kehendaknya. Paham Optimisme Teknologi Menurut paham ini, teknologi adalah tulang punggung pembangunan. Sebagai akibat dari kemajuan tekonlogilah kita dapat menguak berbagai rahasia alam untuk dimanfaatkan menjadi kesejahteraan manusia. Paham Keyakinan Tuhan Alam dan seisinya diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa dengan dibantu IPTEK disertai pemeliharaannya oleh manusia. Referensi Saleh, 2018. Pengantar psikologi. Makassar Penerbit Aksara Timur. Warsah, I., Daheri, M. 2021. Psikologi suatu pengantar. Yogyakarta Tunas Gemilang Press.
PEMBAWAAN, KETURUNAN, DAN LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh Muhammad Fathurrohman Guru Sang Dewo SMPN 2 Pagerwojo & Akademisi UIN Maliki Malang A. Pengantar Pendidikan adalah sebuah aktivitas manusia yang memiliki maksud mengembangkan individu sepenuhnya. Islam merupakan agama yang sangat menekankan pendidikan bagi manusia. Hal itu terbukti dengan adanya banyak hadits dan ayat al-Qurโan yang menunjukkan tentang pendidikan. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bersumber dari al-Qurโan dan al Hadits sebagai sumber utama agama Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang digunakan untuk membina manusia dari kecil sampai mati. Karena pendidikan Islam merupakan pendidikan seumur hidup, maka perlu dibedakan antara pendidikan orang dewasa dan pendidikan anak-anak. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang memperhatikan perkembangan jiwa anak. Oleh karena itu, Akhyak mengatakan dalam bukunya, pendidikan yang tidak berorientasi pada perkembangan kejiwaan akan mendapatkan hasil yang tidak maksimal, bahkan bisa membawa kepada kefatalan anak, karena anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan irama dan ritme perkembangan kejiwaan anak. Masing-masing periode perkembangan anak memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi anak secara baik tanpa ada hambatan. Dalam implementasi pendidikan anak, guru dan orang tua memiliki keharusan untuk memperhatikan periodisasi perkembangan psikis anak. Menurut Kohntamn, anak memiliki periodisasi perkembangan psikologis, yaitu masa vital 0- 2 tahun, masa estetis 2-7 tahun, masa intelektual 7-13 tahun, masa sosial 13/14 -20/21 tahun. Masa vital ini dimulai dengan kelahiran anak. Bayi lahir dalam keadaan yang sangat lemah. Ia tidak akan mampu hidup terus tanpa bantuan orang lain. Manusia lain terutama ibunya, akan membantu bayi yang baru lahir itu untuk dapat hidup terus. Jadi bayi, begitu juga setiap orang, memerlukan orang lain. Dengan perkataan lain, dalam proses pertumbuhan setiap orang tidak dapat berdiri sendiri. Setiap manusia memerlukan lingkungan dan senantiasa akan memerlukan manusia lain. Dari berbagai statement di atas, dapat dikatakan bahwa dalam pertumbuhan dan perkembangannya, manusia dipengaruhi oleh faktor hereditas atau keturunan, pembawaan, dan juga lingkungan. Kebanyakan referensi yang ada dalam ilmu psikologi, baik psikologi perkembangan maupun psikologi pendidikan bahkan psikologi umum, adalah teori-teori barat tentang hereditas, pembawaan dan lingkungan yang berpengaruh pada perkembangan individu. Sebenarnya Islam sendiri juga mempunyai teori tentang hal tersebut. Hanya saja teori yang ada dalam Islam tidak tersusun rapi dan masih tercecer di sana-sini. Maka dari itu, penulis berusaha mengumpulkan teori dari Islam untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai pandangan Islam mengenai pembawaan, keturunan dan lingkungan. Untuk itu penulis akan menyusun sebuah tulisan yang berjudul โPembawaan, Keturunan, dan Lingkungan dalam Perspektif Islamโ yang penulis kumpulkan dari berbagai referensi yang ada. B. Keturunan, Pembawaan dan Lingkungan Dalam Perspektif Psikologi Secara Umum Hereditas adalah kecenderungan untuk berkembang mengikuti pola-pola tertentu, seperti kecenderungan untuk berjalan tegak, kecenderungan bertambah besar, kecenderungan untuk menjadi orang yang lincah. Kecenderungan ini tidak hanya terdapat selama masa kanak-kanak, melainkan tetap ada pada diri kita selama kita masih hidup. Akan tetapi, kecenderungan tersebut tidak akan terwujud menjadi kenyataan, jika tidak mendapatkan kesempatan atau rangsangan dari luar untuk berkembang. Lingkungan nyaris selalu memodifikasi dengan potensi bawaan dan itu berlangsung sepanjang anak manusia. Namun perkembangan tidak hanya ditentukan lingkungan atau faktor genetis saja. Karena itu dapat dikatakan bahwa faktor hereditas atau genetis bukan merupakan prediktor yang pasti tentang potensi yang dimiliki oleh seorang anak. Demikian juga lingkungan, lingkungan juga tidak bisa mendominasi dalam hal perkembangan seorang anak manusia. Berikut ini akan penulis bahas mengenai pendapat para filosof tentang perkembangan manusia. Aliran Empirisme Empirisme berasal dari bahasa latin. Asal katanya empiricus yang berarti pengalaman. Aliran ini dinamakan aliran โtabula rasaโ yang artinya meja berlapis lilin yang belum ada tulisan di atasnya atau batu tulis kosong atau lembaran kosong. Maka bisa dikatakan bahwa seseorang yang lahir itu ibarat kertas kosong yang belum ditulisi apa-apa. Pendidikan sepenuhnya diserahkan pada lingkungan. Perkembangan seseorang tergantung pada pengalaman-pengalaman, lingkungan dan pendidikan yang diperoleh dalam kehidupannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Oleh karena itu, aliran ini dinamakan aliran optimis dalam pendidikan. Tokoh perintis pandangan ini adalah John Lock 1704-1832 seorang filsuf Inggris yang mengembangkan teori โTabula Rasaโ. Menurut pandangan empirisme pendidikan memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman yang tentunya sesuai dengan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, lingkungan masyarakat dan keluarga telah terbukti menentukan tinggi rendahnya mutu perilaku dan masa depan seorang siswa. Aliran empirisme ini dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan. Padahal dalam kenyataannya banyak anak yang berhasil karena berbakat meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Aliran Nativisme Nativisme berasal dari bahasa latin nativius yang berarti terlahir. Seseorang berkembang berdasarkan apa yang dibawanya dari lahir. Pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang. Aliran ini konon dijuluki sebagai aliran pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kacamata hitam. Pelopornya, Schoupenhauer 1788-1880, filosof berkebangsaan Jerman. Ia berpendapat mendidik ialah membiarkan seorang tumbuh berdasarkan pembawaannya. Jadi bisa dikatakan bahwa hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Atau dengan kata lain, keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas adalah bahwa dalam diri individu terdapat suatu โintiโ pribadi yang mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemampuan bebas. Pada perkembangan selanjutnya, aliran ini masih cukup berpengaruh di kalangan para ahli, namun tidak semutlak dulu. Aliran Naturalisme Naturalisme berasal dari bahasa latin nature yang berarti alam, tabiat dan pembawaan. Ciri utama aliran ini yakni dalam mendidik seseorang kembalilah kepada alam agar pembawaan seseorang yang baik tidak dirusak oleh pendidik. Dengan kata lain, pembawaan yang baik supaya berkembang secara spontan. Tokoh aliran ini adalah JJ Rousseau. Ia menyatakan bahwa faktor-faktor alamiah mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia. Aliran ini dapat dinamakan megativisme, yaitu aliran yang meragukan pendidikan untuk perkembangan seseorang, karena ia dilahirkan dengan pembawaan yang baik. Pendidikan hendaknya dimulai dengan mempelajari perkembangan anak agar pembawaannya yang baik tidak dirugikan. Jadi menurut aliran ini, pendidikan yang benar adalah pendidikan yang sesuai dengan pembawaan manusia masing-masing. Contohnya anak seorang musisi mestinya sekolah pada jurusan seni musik, bukan jurusan kedokteran. Aliran Konvergensi Konvergensi berasal dari bahasa Inggris Convergency yang berarti pertemuan pada satu titik. Aliran ini mempertemukan atau mengawinkan dua aliran yang berlawanan di atas; antara nativisme dan empirisme. Perkembangan seseorang tergantung pada pembawaan dan lingkungannya. Pembawaan seseorang baru berkembang karena mendapat pengaruh dari lingkungan. Hendaknya para pendidik dapat menciptakan suatu lingkungan yang tepat, cukup kaya atau beraneka ragam agar pembawaan dapat berkembang semaksimal mungkin. Tokoh utama aliran ini adalah William Stern 1871-1938, seorang filosof dan psikolog dari Jerman. Penganut teori ini berkeyakinan bahwa baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan andilnya sama besar dalam menentukan masa depan seseorang. Jadi pada intinya, pembawaan atau hereditas saja tidak cukup untuk mengembangkan manusia dengan potensial. Sedangkan lingkungan saja tidak berarti apa-apa untuk mengembangkan manusia sesuai dengan harapan yang diinginkan Jadi pada intinya teori konvergensi Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan. Berdasarkan uraian di atas mengenai aliran-aliran yang berhubungan dengan proses perkembangan manusia, penulis berkesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya mutu hasil perkembangan manusia ada dua macam, antara lain Faktor intern, faktor yang ada dalam anak itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri. Faktor eksternal, yaitu hal-hal yang datang atau ada di luar diri anak tersebut, yaitu lingkungan pendidikan dan pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya.. Apabila kedua faktor ini ada pada anak didik, maka anak didik akan mudah untuk menerima pendidikan dan mampu mewujudkan tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan, yaitu menjadi insan kamil yang selanjutnya mampu menjalankan tugasnya sebagai manusia. C. Keturunan, Pembawaan dan Lingkungan Dalam Perspektif Islam Islam menjelaskan bahwa keturunan, pembawaan dan lingkungan mempunyai pengaruh yang bersama-sama dalam perkembangan dan pertumbuhan anak. Kalau dalam teori psikologi umum itu istilahnya adalah konvergensi yang memadukan antara nativisme dengan empirisme, antara pembawaan atau keturunan dengan lingkungan. Sedangkan dalam Islam mempunyai istilah teori fitrah. Dalam pembahasan berikut akan penulis jelaskan mengenai teori fitrah Secara etimologis, kata fiลฃrah yang berasal dari berarti โciptaanโ atau โpenciptaanโ. Disamping itu, kata fiลฃrah juga berarti sebagai โsifat dasar atau pembawaanโ, berarti pula โpotensi dasar yang alami atau natural dispositionโ, pengetahuan tentang Tuhannya. Dari keterangan etimologi di atas, apabila seorang bayi berkembang biak dengan sendirinya tanpa pengaruh apa-apa, maka tentu ia akan memilih jalan iman dalam tingkatan ihsan, karena ia memang tercipta di atas karakter yang siap untuk menerima syaraโ. Dengan demikian, fiลฃrah adalah sifat dasar atau potensi pembawaan yang berupa ketauhidan atau keislaman yang diciptakan oleh Allah sebagai dasar dari suatu proses penciptaan. Kata fiลฃrah tersebut diisyaratkan dalam firman Allah SWT, sebagai berikut ููุฃูููู
ู ููุฌููููู ูููุฏููููู ุญููููููุง ููุทูุฑูุฉู ุงูููููู ุงูููุชูู ููุทูุฑู ุงููููุงุณู ุนูููููููุง ููุง ุชูุจูุฏูููู ููุฎููููู ุงูููููู ุฐููููู ุงูุฏููููู ุงูููููููู
ู ููููููููู ุฃูููุซูุฑู ุงููููุงุณู ููุง ููุนูููู
ูููู 30 Artinya Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Fitrah menurut Mujahid, sebagaimana yang dikutip al-Thabari adalah Islam. Sehingga dapat dipahami bahwa fitrah manusia dalam ayat di atas dikaitkan dengan agama, hal itu karena manusia pernah mengadakan perjanjian dengan Allah, bahwa manusia menerima Allah sebagai Tuhan yang patut untuk disembah. Sebagaimana keterangan dalam al-Qurโan โฆุฃูููุณูุชู ุจูุฑูุจููููู
ู ููุงูููุง ุจูููู ุดูููุฏูููุงโฆ ..Bukankah Aku Ini Tuhanmu?โ mereka menjawab โBetul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksiโฆ Al-Aโraf/7172 Dengan demikian, telah jelas bahwa fitrah manusia adalah mempercayai Allah sebagai Tuhan. Fitrah tersebut memberikan arti bahwa manusia mempunyai potensi aktualisasi sifat-sifat Allah ke dalam diri manusia. Walaupun al-Qurโan telah menginformasikan tentang besarnya potensi fitrah terhadap perkembangan individu sejak 14 abad yang lalu, namun hal ini tidak sama dengan konsep konvergensi yang dikemukakan oleh William Sterm. Al-Qurโan dalam ayat di atas menjelaskan dengan sangat jelas, bahwa potensi yang dimiliki oleh manusia dan dibawa sejak lahir itu adalah potensi keagamaan, namun teori konfergensi tidak menjelaskan mengenai jenis potensi yang dibawa. Terlebih lagi konsep tabula rasa yang menganggap bahwa manusia itu lahir dengan tanpa membawa apa-apa atau kosong, bahkan bagaikan kertas putih. Konsep ini sungguh tidak cocok dengan konsep pendidikan Islam yang menganggap manusia lahir ke dunia membawa potensi berupa fitrah Islam. Dan pendidikan Islam bertugas untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri manusia tersebut, karena potensi yang diberikan Allah tersebut pada akhirnya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Hadits Nabi juga menguatkan bahwa manusia mempunyai potensi dasar yang berupa potensi fithrah ุฃูููู ุฃูุจูุง ููุฑูููุฑูุฉู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนููููู ููุงูู ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ู
ูุง ู
ููู ู
ููููููุฏู ุฅููููุง ูููููุฏู ุนูููู ุงููููุทูุฑูุฉู ููุฃูุจูููุงูู ูููููููุฏูุงูููู ููููููุตููุฑูุงูููู ุฃููู ููู
ูุฌููุณูุงูููู Artinya Sesungguhnya Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda tidak seorang anak dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan yahudi, nasrani atau majusi. Hadits di atas memberikan isyarat bahwa manusia mempunyai potensi dasar baik karena faktor keturunan maupun pembawaan. Akan tetapi pengembangan potensi dasar yang dimiliki oleh manusia itu dilakukan dengan pendidikan, karena potensi tersebut tidak dapat berkembang dengan sendirinya melainkan membutuhkan lingkungan yang kondusif dan edukatif. Karena sebagaimana diutarakan Al-Maraghi, yang dikutip Erwati Aziz, bahwa fitrah yang telah diberikan Allah itu tidak akan berubah atau menyimpang kecuali oleh ajaran dan didikan yang datang dari luar, seperti yang dilakukan oleh orang tua dan guru. Maka dari itu, pengembangkan potensi harus dilakukan dengan cara manusia mengikuti pendidikan dan pelatihan, terutama pendidikan Islam. Hadits tersebut juga menyatakan bahwa lingkungan mempunyai porsi dalam perubahan dan pengembangan potensi. Jika anak berada dalam lingkungan yang tidak kondusif maka pengembangan potensi juga tidak akan maksimal atau bahkan pengembangan potensi tersebut mengarah ke arah negatif. Pengembangan potensi hendaklah dilakukan dengan penanaman nilai-nilai keislaman, agar manusia bisa mengingat janjinya yang diucapkan kepada Allah ketika zaman azali dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yang dikemukakan al-Ghazali yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan mendekatkan diri pada Allah, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan. Dalam pengembangan potensi fitrah dengan cara pendidikan atau lingkungan, manusia biasanya menyadari dan melakukan yang terbaik demi anak didiknya. Namun, manusia kurang menyadari bagaimana cara membina agar faktor bawaan dan keturunan tersebut positif. Berikut ini akan penulis bahas mengenai cara pengembangan potensi fitrah dengan menyikapi atau merespon faktor bawaan atau hereditas manusia dan berdasarkan wahyu. Berdasarkan pengamatan penulis terdapat dua cara atau tahap pendidikan untuk memelihara atau melindungi hereditas, yaitu tahapan pra konsepsi, dan tahapan pra-natal. Pada kesempatan kali ini, penulis akan menerangkan satu per satu mengenai tahapan atau cara memelihara faktor hereditas tersebut secara garis besar. Tahapan pendidikan pra-konsepsi Tahapan pendidikan ini adalah upaya persiapan pendidikan yang dilakukan oleh seseorang semenjak ia mulai memilih dan atau mencari jodoh sampai pada saat terjadinya pembuahan dalam rahim seorang ibu. Dalam hal ini, perlu berbagai persiapan; yang pertama adalah memilih jodoh. Dalam memilih jodoh seseorang dianjurkan untuk memilih pasangan yang memungkinkan untuk diajak hidup berumah tangga, sebagaimana firman Allah dalam al-Qurโan ููููุง ุชูููููุญููุง ุงููู
ูุดูุฑูููุงุชู ุญูุชููู ููุคูู
ูููู ููููุฃูู
ูุฉู ู
ูุคูู
ูููุฉู ุฎูููุฑู ู
ููู ู
ูุดูุฑูููุฉู ูููููู ุฃูุนูุฌูุจูุชูููู
ู ููููุง ุชูููููุญููุง ุงููู
ูุดูุฑูููููู ุญูุชููู ููุคูู
ููููุง ููููุนูุจูุฏู ู
ูุคูู
ููู ุฎูููุฑู ู
ููู ู
ูุดูุฑููู ูููููู ุฃูุนูุฌูุจูููู
ู ุฃููููุฆููู ููุฏูุนูููู ุฅูููู ุงููููุงุฑู ููุงูููููู ููุฏูุนูู ุฅูููู ุงููุฌููููุฉู ููุงููู
ูุบูููุฑูุฉู ุจูุฅูุฐููููู ููููุจูููููู ุขูููุงุชููู ููููููุงุณู ููุนููููููู
ู ููุชูุฐููููุฑูููู 221 Artinya Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita mukmin sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya perintah-perintah-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. Ayat di atas memerintahkan agar seorang muslim jangan memilih istri wanita yang musyrik dan sebaliknya, karena itu akan membawa dampak di kemudian hari yang berkenaan dengan pendidikan anaknya. Disamping itu, dalam ayat lain juga disebutkan ููุฃูููููุญููุง ุงููุฃูููุงู
ูู ู
ูููููู
ู ููุงูุตููุงููุญูููู ู
ููู ุนูุจูุงุฏูููู
ู ููุฅูู
ูุงุฆูููู
ู ุฅููู ููููููููุง ููููุฑูุงุกู ููุบูููููู
ู ุงูููููู ู
ููู ููุถููููู ููุงูููููู ููุงุณูุนู ุนููููู
ู32 Artinya Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak berkawin dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. al-Nur 32 Ayat di atas dapat diambil pemahaman, bahwa dalam menikah janganlah takut miskin, karena rizki itu adalah urusan Allah. Berbagai ayat di atas tadi akan menjadi terpadu, jika pemahamannya digabungkan dengan hadits berikut ุญูุฏููุซูููุง ููุญูููู ุจููู ุญููููู
ู ุญูุฏููุซูููุง ููุญูููู ุจููู ุณูุนููุฏู ุนููู ุนูุจูููุฏู ุงูููููู ุจููู ุนูู
ูุฑู ุนููู ุณูุนููุฏู ุจููู ุฃูุจูู ุณูุนููุฏู ุนููู ุฃูุจูููู ุนููู ุฃูุจูู ููุฑูููุฑูุฉู ุฃูููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ููุงูู ุชูููููุญู ุงููููุณูุงุกู ููุฃูุฑูุจูุนู ููู
ูุงููููุง ููููุญูุณูุจูููุง ููููุฌูู
ูุงููููุง ููููุฏููููููุง ููุงุธูููุฑู ุจูุฐูุงุชู ุงูุฏููููู ุชูุฑูุจูุชู ููุฏูุงูู Artinya Wanita dinikahi karena 4 perkara, karena hartanya, nasabnya, cantiknya dan agamanya. Maka pilihlah yang mempunyai agama niscaya kamu akan beruntung. Dari hadits di atas dapat dipahami, bahwa dalam mencari jodoh seseorang itu hendaklah selektif, baik itu laki-laki maupun perempuan, karena semua itu menentukan pendidikan anak dimasa yang akan datang. Jadi, supaya anak yang lahir nanti seorang yang shaleh, maka laki-laki harus mencari seorang wanita yang shaleh sebagai pendamping hidupnya, sebaliknya seorang wanita yang shaleh juga harus mau mencari laki-laki yang shaleh juga. Tradisi ini, kalau menurut bahasanya para Kiai yaitu pemeliharaan nasab. Kedua, setelah mendapat jodoh, maka seseorang harus memberi istrinya tersebut makanan dan minuman serta rizki yang halal, karena apa yang dikonsumsi oleh keluarga juga secara tidak langsung berpengaruh terhadap anak, baik fisik maupun mentalnya. Sebagaimana firman Allah ูููููููุง ู
ูู
ููุง ุฑูุฒูููููู
ู ุงูููููู ุญูููุงููุง ุทููููุจูุง ููุงุดูููุฑููุง ููุนูู
ูุฉู ุงูููููู ุฅููู ููููุชูู
ู ุฅููููุงูู ุชูุนูุจูุฏูููู 114 Artinya Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. al-Nahl/16 114 Ayat di atas memberikan pemahaman agar setiap orang muslim itu, makan makanan dan minuman juga mencari rizki yang halal, dan melarang umat Islam mencari rizki yang haram. Karena apabila sudah bercampur dengan darah, maka makanan atau apapun yang berbau haram akan senantiasa menimbulkan emosi yang negatif dan akan menjadikan pikiran manusia juga menjadi negatif. Di samping itu, hal itu akan mencegah seseorang naik ke maqam selanjutnya karena ia belum mampu membersihkan diri dari perkara yang tercela. Apabila keluarga diberi makanan dan minuman yang tidak halal, hal itu bisa berakibat negatif, terutama pada anak, terlebih lagi kalau yang dikasih rizki yang tidak halal itu istri yang sedang hamil. Jika istri sedang hamil, maka hendaknya suami menerapkan waraโ untuk mencari rizki, supaya rizki yang dikonsumsi itu benar-benar halalan thayyiban. Ketiga, yaitu berdoa meminta anak yang shalih. Karena setiap doa, pastilah dikabulkan oleh Allah, sebagaimana firman Allah ููููุงูู ุฑูุจููููู
ู ุงุฏูุนููููู ุฃูุณูุชูุฌูุจู ููููู
ูโฆ Artinya Dan Tuhanmu berfirman โBerdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. al-Muโmin/4060 Ayat di atas memerintahkan manusia untuk berdoa kepada Allah dan selalu memohon pertolongan kepadaNya. Karena menurut al-Thabari, maksud dari astajib lakum adalah โaku akan mengabulkan dan mengampuni kamu sekalian dan juga mengasihi kamu sekalianโ. Hal itu merupakan semangat bagi orang tua, agar orang tua senantiasa selalu berdoa untuk meminta anak yang shaleh dan pendidikan anaknya tersebut berhasil. Setelah pendidikan pra-konsepsi, maka selanjutnya selanjutnya akan penulis kemukakan cara mendidik anak ketika anak masih dalam kandungan agar hereditas bisa terwujud dengan baik dan sesuai dengan harapan orang tua. Pendidikan pre-natal adalah upaya persiapan pendidikan yang dilakukan oleh kedua orang tua pada saat anak masih dalam kandungan sang ibu. Dalam al-Qurโan terdapat berbagai interaksi yang menunjukkan pendidikan pre-natal, yaitu pendidikan yang dilakukan oleh Hannah terhadap Maryam dan Zakariya terhadap Yahya. Pendidikan yang dilakukan Hannah terhadap Maryam terdapat dalam surah ali Imran ayat 33-37. Penulis akan menguraikan ayat tersebut satu persatu. ุฅูููู ุงูููููู ุงุตูุทูููู ุขูุฏูู
ู ูููููุญูุง ููุขููู ุฅูุจูุฑูุงูููู
ู ููุขููู ุนูู
ูุฑูุงูู ุนูููู ุงููุนูุงููู
ูููู 33 ุฐูุฑูููููุฉู ุจูุนูุถูููุง ู
ููู ุจูุนูุถู ููุงูููููู ุณูู
ููุนู ุนููููู
ู 34 Artinya Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat di masa mereka masing-masing. sebagai satu keturunan yang sebagiannya turunan dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ali Imran/2 33-34. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah melebihkan keluarga Adam, Nuh, Ibrahim dan Imran. Nabi-nabi tersebut dilebihkan karena mereka mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri, misalnya Adam, karena diciptakan pertama kali, dan lain sebagainya. Demikian juga keluarga Imran, diistimewakan dengan menurunkan Maryam yang akan melahirkan Isa. ุฅูุฐู ููุงููุชู ุงู
ูุฑูุฃูุฉู ุนูู
ูุฑูุงูู ุฑูุจูู ุฅููููู ููุฐูุฑูุชู ูููู ู
ูุง ููู ุจูุทูููู ู
ูุญูุฑููุฑูุง ููุชูููุจูููู ู
ููููู ุฅูููููู ุฃูููุชู ุงูุณููู
ููุนู ุงููุนููููู
ู 35 Artinya Ingatlah, ketika isteri Imran berkata โYa Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Karena itu terimalah nazar itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.โ Ali Imran/235 Istri Imran dalam ayat ini maksudnya adalah Hannah bint Faqud. Menurut pendapat Muhammad ibn Ishaq. Hannah termasuk wanita yang mandul. Pada suatu hari Hannah melihat induk burung menyuapi makanan anaknya. Hal ini menyebabkan Hannah semakin kuat keinginannya untuk memiliki anak, lalu berdoa kepada Allah dan Allah mengabulkan doanya. Dalam masa hamilnya, ia bernadzar kepada Allah dengan ikhlas agar anaknya kelak menjadi orang yang memakmurkan bait al-Maqdis. Pada ayat inilah, tampak teknik pendidikan atau cara pembinaan anak yang isinya yaitu pendidikan pre-natal, yang berisi โtentang upaya meminta anak saleh diantaranya melalui doa dan nazarโ. Pendidikan pre-natal meyakini bahwa pembentukan anak sudah dipengaruhi sejak dalam kandungan. Kondisi emosional saat ibu mengandung juga mempengaruhi terhadap karakter anak. Pada saat ini doa dan nazar yang dilakukan Hannah terhadap Maryam tentunya memiliki peran yang signifikan, sehingga nantinya lahir menjadi generasi yang shalehah seperti Maryam. Doa yang dilakukan Hannah mengandung etika-etika berdoa, sebagaimana diuraikan Miftahul Huda, sebagai berikut Doa dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak mengenal putus asa. Nazar ditujukan untuk niatan yang baik, yaitu mendidik anaknya kelak dengan pendidikan agama sehingga taat dalam beragama. Doa dan nazar dilakukan dengan penuh keikhlasan bukan karena keadaannya yang mandul. ููููู
ููุง ููุถูุนูุชูููุง ููุงููุชู ุฑูุจูู ุฅููููู ููุถูุนูุชูููุง ุฃูููุซูู ููุงูููููู ุฃูุนูููู
ู ุจูู
ูุง ููุถูุนูุชู ููููููุณู ุงูุฐููููุฑู ููุงููุฃูููุซูู ููุฅููููู ุณูู
ููููุชูููุง ู
ูุฑูููู
ู ููุฅููููู ุฃูุนููุฐูููุง ุจููู ููุฐูุฑูููููุชูููุง ู
ููู ุงูุดููููุทูุงูู ุงูุฑููุฌููู
ู 36 ููุชูููุจููููููุง ุฑูุจููููุง ุจูููุจูููู ุญูุณููู ููุฃูููุจูุชูููุง ููุจูุงุชูุง ุญูุณูููุง ูููููููููููุง ุฒูููุฑููููุง ูููููู
ูุง ุฏูุฎููู ุนูููููููุง ุฒูููุฑููููุง ุงููู
ูุญูุฑูุงุจู ููุฌูุฏู ุนูููุฏูููุง ุฑูุฒูููุง ููุงูู ููุง ู
ูุฑูููู
ู ุฃููููู ูููู ููุฐูุง ููุงููุชู ูููู ู
ููู ุนูููุฏู ุงูููููู ุฅูููู ุงูููููู ููุฑูุฒููู ู
ููู ููุดูุงุกู ุจูุบูููุฑู ุญูุณูุงุจู 37 Artinya Maka tatkala isteri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata โYa Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharaan Engkau daripada syaitan yang terkutuk. Maka Tuhannya menerimanya sebagai nazar dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata โHai Maryam dari mana kamu memperoleh makanan ini?โ Maryam menjawab โMakanan itu dari sisi Allah.โ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Ali Imran/2 36-37. Nazar Hannah pada ayat sebelumnya karena ia mempunyai asumsi bahwa anak yang dikandungnya adalah anak laki-laki. Ternyata setelah lahir, anak tersebut adalah wanita, sehingga ia berkata Ya Tuhan! Aku melahirkan anak wanita. Namun Allah lebih mengetahui apa yang ditakdirkannya walaupun secara fisik perempuan berbeda ketahanannya dalam beribadah kepada Allah dan memakmurkan bait al-Maqdis. Kemudian Hannah memberi nama anaknya tersebut dengan nama Maryam. Dan mendoakannya agar dilindungi dari godaan setan yang terkutuk. Sebenarnya dalam periode sudah masuk tahapan pendidikan post-natal. Kemudian Allah menerima nazar Hannah dan menjadikan Maryam sebagai wanita yang cantik. Disamping itu, Allah menjadikan Zakariya sebagai pemelihara Maryam dan menurut pendapat, Zakariya mengambilnya ketika masih kecil. Zakariya adalah suami saudari ibunya. Ketika menginjak dewasa, Maryam diberi karamah oleh Allah, yaitu mendapat buah-buahan yang tidak semestinya. Maryam dipelihara oleh Zakariya mempunyai tujuan agar Maryam mengadopsi dan mengambil ilmu dari Zakariya. Sedangkan mengenai tahapan pendidikan pre-natal yang dilakukan oleh Zakariya, penulis akan membahasnya secara global saja. Pendidikan pre-natal yang dilakukan Zakariya kepada Yahya, salah satunya tercantum dalam ayat 38-41. Berikut ini penjelasannya ููููุงูููู ุฏูุนูุง ุฒูููุฑููููุง ุฑูุจูููู ููุงูู ุฑูุจูู ููุจู ููู ู
ููู ููุฏููููู ุฐูุฑูููููุฉู ุทููููุจูุฉู ุฅูููููู ุณูู
ููุนู ุงูุฏููุนูุงุกู 38 ููููุงุฏูุชููู ุงููู
ูููุงุฆูููุฉู ูููููู ููุงุฆูู
ู ููุตููููู ููู ุงููู
ูุญูุฑูุงุจู ุฃูููู ุงูููููู ููุจูุดููุฑููู ุจูููุญูููู ู
ูุตูุฏููููุง ุจูููููู
ูุฉู ู
ููู ุงูููููู ููุณููููุฏูุง ููุญูุตููุฑูุง ููููุจููููุง ู
ููู ุงูุตููุงููุญูููู 39 ููุงูู ุฑูุจูู ุฃููููู ููููููู ููู ุบูููุงู
ู ููููุฏู ุจูููุบููููู ุงููููุจูุฑู ููุงู
ูุฑูุฃูุชูู ุนูุงููุฑู ููุงูู ููุฐููููู ุงูููููู ููููุนููู ู
ูุง ููุดูุงุกู 40 ููุงูู ุฑูุจูู ุงุฌูุนููู ููู ุขูููุฉู ููุงูู ุขูููุชููู ุฃููููุง ุชููููููู
ู ุงููููุงุณู ุซูููุงุซูุฉู ุฃููููุงู
ู ุฅููููุง ุฑูู
ูุฒูุง ููุงุฐูููุฑู ุฑูุจูููู ููุซููุฑูุง ููุณูุจููุญู ุจูุงููุนูุดูููู ููุงููุฅูุจูููุงุฑู 41 Artinya Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata โYa Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.โ Kemudian Malaikat Jibril memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab katanya โSesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran seorang puteramu Yahya, yang membenarkan kalimat yang datang dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri dari hawa nafsu dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.โ Zakariya berkata โYa Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?.โ Berfirman Allah โDemikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.โ Berkata Zakariya โBerilah aku suatu tanda bahwa isteriku telah mengandung.โ Allah berfirman โTandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.โ Ali-Imran/238-41 Pada kisah ini terjadi tahapan pendidikan pre-natal, yang dimulai dari Zakariya berdoa kepada Allah meskipun terkesan pro-aktif, dan disertai rasa pasrah, hal ini dikarenakan istrinya sudah tua dan mandul. Zakariya berdoa dengan arif kepada Allah dengan penuh harapan anugerah generasi atau anak saleh yang dapat mengajarkan rahasia-rahasia ketuhanan. Kemudian Allah memerintahkan kepada malaikat untuk memberitahu secara lisan kepada Zakariya yang dapat didengarnya ketika sedang shalat dan bermunajat kepada Allah. Isi pemberitahuan ini adalah Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran seorang putramu bernama Yahya yang juga termasuk seorang Nabi. Zakariya sempat tercengang dan tidak percaya dengan keadaannya yang demikian tersebut dan juga istrinya yang sudah mandul dikaruniai seorang anak laki-laki yang saleh. Maka kemudian Zakariya meminta pertanda kepada Allah, bahwa istrinya telah mengandung anaknya. Selanjutnya adalah Allah memberikan pertanda dengan suatu tanda, yaitu ia tidak dapat berbicara kepada manusia dengan lisan dan harus memakai isyarat. Kemudian Allah memerintahkan Zakariya untuk memperbanyak berdzikir dan bertasbih kepada-Nya ketika pagi dan petang. Hal itu juga merupakan pendidikan pre-natal, karena dengan berdzikir dan senantiasa bertasbih kepada Allah, maka orang tersebut menjadi semakin dekat kepada-Nya. Dan Allah akan selalu mengabulkan doa-doa orang yang dekat dengan-Nya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan perkembangan kandungan. Faktor fisik ibu yang mengandung, meliputi kondisi fisik ibu mengandung, perawatan kesehatan selama mengandung, pemenuhan makanan bergizi, mengidap suatu penyakit berat, serta usia ibu waktu mengandung, semua ikut mempengaruhi anak yang bakal lahir. Faktor psikis ibu mengandung. Suasana emosional ibu waktu mengandung, susah, gelisah, mengalami tekanan berat, semua ini mengganggu kesehatan ibu sehingga menghambat pertumbuhan janin dalam kandungan. Maka dari itu dalam Islam disarankan ketika seorang ibu hamil suka membaca al-Qurโan, terlebih lagi surah Yusuf dan Surah Maryam. Itu semua mengindikasikan pendidikan anak selama dalam kandungan. Dari telaah di atas, dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang menginginkan mempunyai keturunan yang hereditasnya baik, hendaklah dimulai dari sekarang, dan mulai dari diri sendiri. Mulai mendekatkan diri kepada sang khaliq agar kelak diberi dzurriyah thayyibah. Sementara itu ketika lahir ke dunia, bayi biasanya menangis. Hal itu mempunyai arti bahwa bayi tersebut takut, karena terjadinya perpindahan alam dari alam kandungan ke alam dunia. Dalam hal ini orang tua harus segera melakukan tindakan. Tindakan yang dilakukan tersebut juga merupakan tindakan pendidikan, yaitu dengan mengadzani dan mengiqamahi serta memberinya makanan manis juga mendoakannya. Itu semua bertujuan untuk mengembangkan fitrah yang ada pada anak tersebut menuju agama Islam, dan juga untuk mengenalkan kepada anak tersebut tentang dunia yang sedang ia jalani. Demikian sedikit pembahasan mengenai hereditas dan lingkungan dalam perspektif Islam. Penulis sengaja langsung mengambil dan membuat sendiri kaidahnya dari al-Qurโan dan hadits, karena dari penelusuran referensi yang penulis lakukan, penulis hanya menemukan hereditas secara umum saja. Mestinya keilmuan ini dikembangkan dengan model induksi dan deduksi agar psikologi pendidikan Islam mampu eksis di tengah pergumulan pendidikan Islam. Karena selama ini, belum ada buku khusus yang membahas mengenai psikologi pendidikan Islam. Referensi Akhyak, Profil Pendidik Sukses Sebuah Formulasi dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Surabaya eLKAF, 2005. Al-Alusi, Shihab al-Din, Ruh al-Maโani fi Tafsir al-Qurโan al-Adzim, juz 3, Mauqiu Al-Tafasir Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005. al-Baghawi, Abu Muhammad Hasan ibn Masโud, Muโalim al Tanzil juz 2, Dar Tayyibah lin Nasr Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005. Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad ibn Ismaโil, Shahih Bukhari juz 5, Mauqiโu al-Islam dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005. Al-Ghazali, Abu Hamid, Bidayah al-Hidayah dalam Khawasyi Miraqil Ubudiyah, Semarang Toha Putra, tt. Al-Nasafi, Abdullah Ahmad ibn Mahmud, Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Taโwil, juz 1, Maqiโu al-Tafasir Dalam Sotfware al-Maktabah al-Syamilah, 2005. Al-Thabari, Ibn Jarir, Tafsir Jamiโ al Bayan fi taโwil al-Qurโan, juz 20, Mauqiu Majmaโ al-Mulk dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005. Ashraf, Ali, Horizon Baru Pendidikan Islam, terj. Sori Siregar, Jakarta Pustaka Firdaus, 1996. Aziz, Erwati, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam, Solo PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003. Danim, Sudarwan, Khairil, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, Bandung Alfabeta, 2010. Dariyo, Agoes, Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama, Bandung PT RefikaAditama, 2009. Huda Miftahul, Interaksi Pendidikan 10 Cara Qurโan Mendidik Anak, Malang UIN Malang Press, 2008. Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan,terj. Isti Widayanti dan Soedjarwo,Jakarta Erlangga, 2000. Indayati, Retno, Ilmu Jiwa Perkembangan, Tulungagung Fakultas Tarbiyah, 1995. Katsir, Abu al-Fidaโ Ibn, Tafsir al-Qurโan Adzim, juz 2, Mauqiโu al-Islam dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005. Majah, Ibn, Sunan Ibn Majah Juz 5, Mauqiu al-Hadits dalam Softwareal-Maktabah al-Syamilah, 2005. Makhluf, Louis, Kamus al- Munjid fi al-Lughah, Tp 1977. Maunah, Binti, Diktat Ilmu Pendidikan, Tulungagung Diktat Tidak diterbitkan, 2001. Nuryani, โWawasan Keilmuan Islam Al-Ghazali Studi Analisa Pemikiran al-Ghazali dalam Kitab Bidayah al-Hidayahโ, dalam Taโallum Jurnal Pendidikan Islam,Vol. 28, Sunarto, B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, Jakarta Cipta, 2002. Suryasubrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, Jakarta Rajawali Pers, 1990. Suwaid, Muhammad, Tarbiyah Fi al-Atfal Mendidik Anak Bersama Nabi Panduan Lengkap Pendidikan Anak Disertai Teladan Kehidupan Para Salaf, terj. Salafuddin Abu Sayyid, Solo Pustaka Arafah, 2006. Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung Remaja Rosdakarya, 2000. Tanzeh, Ahmad, โPendidikan Islam Dalam Perspektif Filosof Muslimโ, dalam Meniti Jalan Pendidikan Islam, ed, Akhyak, Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2003. Tim Dosen IKIP, Pengantar Psikologi Umum, SurabayaUsaha Nasional, 1990. Yasin, A. Fatah, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam, Malang UIN Malang Press, 2008. SEKIAN SEMOGA BERMANFAAT